Spiral Of Silence
Berbicara atau terisolasi?
Hai teman-teman! Gimana kemarin setelah baca unggahan terkain Symbolic Interaction Theory yang dikemukakan oleh George Harbert Mead dalam bukunya yang berjudul “The Theoretical Perspective”? semoga bermanfaat ya! Pada kesempatan kali ini kita akan belajar contoh dari Spiral of Silence Theory yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle Neuman pada tahun 1984 ya! Saya janji dengan teman-teman menyimak unggahan ini akan langsung mengerti loh!
Spiral of Silence sendiri merupakan sebuah teori media yang memberikan perhatian pada pandangan mayoritas dan menekan pandangan minoritas. Mereka yang berada di pihak minoritas akan cenderung kurang tegas dan tidak mengemukakan pandangannya.
Sebagai contoh pada kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di Indonesia, yaitu saat seorang korban siswi sekolah menengan keatas (SMA) yang mengalami pelecehan oleh banyak siswa laki-laki di sekolahnya. Siswi tersebut mengalami pelecehan seksual berupa catcalling hingga sentuhan fisik. Semua pelecehan tersebut dilakukan secara Bersama-sama oleh siswa laki-laki di sekolah tersebut.
Pada tahap ini, siswi tersebut telah mengalami kerugian fisik dan dan penurunan mental secara spesifik. Ia jadi cenderung enggan untuk berangkat ke sekolah hingga jadi sulit berkomunikasi dan bersosialisasi dengan banyak orang. Ia merasa takut untuk speak up dan membicarakan ini dengan orang-orang terdekat ataupun pihak sekolah yang berwenang. Selain itu, tak jarang para pelaku yaitu segerombolan siswa yang melakukan pelecehan kepadanya sering mengatakan ancaman-ancaman kepada korban agar tidak melaporkan kasus pelecehan tersebut.
Merujuk kepada alasan mengapa korban enggan untuk membicarakan dan melaporkan pelecehan ini, berikut terdapat beberapa Asumsi yaitu:
1. Asumsi pertama, orang yang memegang kekuasaan mengancam Individu-individu yang menyimpang melalui adanya isolasi.
Korban pelecehan seksual yaitu siswi dari SMA yang sama dengan segerombolan pelaku tak jarang mendapatkan ancaman-ancaman setiap para pelaku melancarkan aksinya. Korban yang telah mengalami kerusakan mental dan fisik akhirnya mendapatkan tekanan lebih dari para pelaku. Alasan korban enggan untuk melaporkan hal ini tidak lain karena takut merasa tidak dipercaya, terkucilkan bahkan dijauhkan oleh teman-teman sekolahnya. Terlebih lagi korban merasa lebih mudah dan nyaman untuk menyetujui pendapat mereka.
2. Asumsi kedua, kekuatan akan terisolasi menyebabkan individu mencoba untuk menilai iklim opini terus menerus.
Ketakutan yang dirasakan oleh korban karena takut tidak dipercaya, terkucilkan hingga terisolasi akhirnya menyebabkan korban jadi menilai opini publik yang ada. Dimana korban akhirnya menentukan opini dan dan pandangan mana yang lebih dominan. Menurut kacamata korban, ia akan terkucilkan jika melaporkan kasus pelecehan seksual yang terjadi kepadanya karena jumlah pelaku banyak.
3. Asumsi ketiga, bahwa perilaku publik dipengaruhi oleh penilaian opini publik.
Selain itu, alasan korban mengapa ia tidak melaporkan hal ini karena merasa tidak memiliki dukungan mayoritas. Karena pada dasarnya individu enggan untuk membicarakan atau mendiskusikan suatu topik yang tidak memiliki dukungan mayoritas. Hal ini di dukung dengan isu berbau seksualitas menjadi hal yang sangat tabu dan memalukan untuk di diskusikan secara terbuka kepada orang banyak. Oleh karena itu, korban merasa tidak memiliki dukungan moyoritas dalam mendiskusikan kasus pelecehan seksual ini.
Tetapi ada juga orang-orang yang tidak terpengaruh oleh spiral of silence, Orang-orang ini terbagi 2 yaitu :
1. The Hard Core
Yaitu merupakan kelompok minoritas yang tetap bangkit. Dapat dikatakan mereka merupakan minoritas tetap pada pendapatnya, yang berusaha mencoba untuk menentang opini publik yang diyakini kaum mayoritas dan tidak memikirkan fear of isolations. Para penyimpang ini akan terus menentang cara berpikir yang dominan dan berani untuk mengkonfrontasi secara langsung, dengan apapun konsekuensinya.
Sebagai contoh yaitu saat korban akhirnya memutuskan untuk mercerita kepada orang tuanya tentang pelecehan seksual yang selama ini ia rasakan dan hadapi seorang diri. Orang tua korban berada di posisi sebagai hardcore karena akhirnya menuntuk keadilan kepada pihak sekolah dan orang tua-orang tua dari para pelaku. Orang tua pelaku sudah tidak memikirkan fear of isolations yang akan dilakukan oleh orang tua-orangtua sesama wali murid SMA tersebut.
2. The avant garde
Sedangkan The Avant Garde merupakan orang-orang yang meyakini bahwa di kemudian hari, opininya akan mendapatkan dukungan dengan menyesuaikan momen yang tepat, orang-orang ini merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat.
Ternyata kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi kepada korban tersebut, melaikan juga telah banyak siswi-siswi lain yang mengalami hal yang sama. Tetapi mereka memutuskan untuk menunggu moment yang tepat dan merasa posisi nya kelak akan di dukung dan mendapatkan keadilan. Merujuk pada banyaknya bukti-bukti dan korban-korban baru yang bermunculan.
Inti teori:
Teori ini mengemukakan bahwa seseorang yang berada dalam kelompok minoritas akan cenderung diam dan tidak berani mengemukakan pendapatnya karena takut terisolasi oleh kelompok mayoritas lainnya. Sehingga akhirnya kelompok minoritas akan mengikuti pendapat kelompok mayoritas. Oleh karena itu, kelompok minoritas akan tenggelam dan terbungkam.
Gimana? Seru banget kan belajar Spiral Of Silence dengan banyak penjelasan contoh-contoh dengan isu yang menarik dan mudah dimengerti! Semoga unggahan ini dapat membantu kalian untuk mengenali berbagai contoh-contoh lain dari Spiral Of Silence di kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa di next blog!
Referensi: West. R., Turner.L., (2009) Introducing communication theory
Disclaimer: Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

ini menarik dan relate banget si sama kehidupan media sosial sekarang
ReplyDeletetrue!!
Deletewahh insightful bangett🤩
ReplyDeletethankyou kaa
Deletevery helful!
ReplyDeleteglad to know ^^
Deletethankyou so much atas artikel nya yang mudah dipahami!
ReplyDeleteurwel <3
Deletevery very insightful!! semangat kak
ReplyDelete